Masrozakdotcom berbagi, kali ini masrozakdotcom ingin mengembangkan seputar asmaul husna lebih tepatnya masrozak ingin mencoba mengembangkan memahami asmaul husna dalam beberapa asma saja, yaitu al Kariim, al Mu’miin, al Wakiil, al Matiin, al Jaami’, al ‘Adl, dan al Aakhir.
Artinya: “Dan Allah Swt. mempunyai asmā’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama-Nya yang baik itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) namanama-Nya. Nanti mereka akan mendapat jawaban terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. al A’rāf/7:180)
Hadist Rosululloh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. sebenarnya Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafalkannya, maka ia akan masuk surga”. (H.R. Bukhari)
Berdasarkan hadis di atas, menghafalkan Asmaul Husna akan mengantarkan orang yang melakukannya masuk ke dalam nirwana Allah Swt. Apakah hanya dengan menghafalkannya saja seseorang akan dengan simpel masuk ke dalam surga?
Jawabnya, tentu saja tidak, bahwa menghafalkan Asmaul Husna harus juga diiringi dengan menjaganya,
baik menjaga hafalannya dengan terus-menerus menżikirkannya, maupun menjaganya dengan menghindari perilaku-perilaku yang bertentangan dengan sifat-sifat Allah Swt. dalam Asmaul Husna tersebut.
Artinya :
“Hai insan apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah?” (Q.S. al-Infitār:6)
Al-Kariim dimaknai Maha Pemberi lantaran Allah Swt. senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya. Manusia dihentikan berputus asa dari kedermawanan Allah Swt. kalau miskin dalam harta, lantaran kedermawanan-Nya tidak hanya dari harta yang dititipkan melainkan mencakup segala hal. Manusia yang berharta dan gemar memberi hendaklah tidak sombong kalau telah mempunyai sifat gemar memberi lantaran Allah Swt. tidak menyukai kesombongan. Dengan demikian, bagi orang yang diberikan harta melimpah maupun tidak dianugerahi harta oleh Allah Swt., keduanya harus bersyukur kepada-Nya lantaran orang yang miskin pun telah diberikan nikmat selain harta.
Al-Kariim juga dimaknai Yang Maha Pemberi Maaf lantaran Allah Swt. memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban kepada Allah Swt., kemudian hamba itu mau bertaubat kepada Allah Swt. Bagi hamba yang berdosa, Allah Swt. ialah Yang Maha Pengampun. Dia akan mengampuni
seberapa pun besar dosa hamba-Nya selama ia tidak mewaspadai kasih sayang dan kemurahan-Nya. Menurut imam al-Gazali, al-Kariim ialah Dia yang apabila berjanji, menepati janjinya, bila memberi, melampaui batas harapan, tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan tidak rela bila ada kebutuhan beliau memohon kepada selain-Nya, meminta pada orang lain. Dia yang bila kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapa yang menuju dan berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
Artinya :
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iktikad mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa kondusif dan mereka mendapat petunjuk.” (Q.S. al-An’ām/6:82)
Pembahasan lainnya Tajwid Surat Al An'am Ayat 162-163
Ketika kita akan menyeru dan berdoa kepada Allah Swt. dengan nama-Nya al-Mu’miin, berarti kita memohon diberikan keamanan, dihindarkan dari fitnah, tragedi dan siksa. Karena Dialah Yang Maha Memberikan keamanan, Dia yang Maha Pengaman.
Dalam nama al-Mu’miin terdapat kekuatan yang dahsyat dan luar biasa. Ada pertolongan dan perlindungan, ada jaminan (insurense), dan ada bala bantuan. Berżikir dengan nama Allah Swt. al-Mu’miin di samping menumbuhkan dan memperkuat keyakinan dan keimanan kita, bahwa keamanan dan rasa kondusif yang dirasakan insan sebagai makhluk ialah suatu rahmat dan karunia yang diberikan dari sisi Allah Swt. Sebagai al-Mu’miin, yaitu Tuhan Yang Maha Pemberi Rasa Aman juga terkandung pengertian bahwa sebagai hamba yang beriman, seorang mukmin dituntut bisa menjadi pecahan dari pertumbuhan dan perkembangan rasa kondusif terhadap lingkungannya.
Mengamalkan dan meneladani asmaul husna al-Mu’miin, artinya bahwa seorang yang beriman harus menimbulkan orang yang ada di sekelilingnya kondusif dari gangguan pengecap dan tangannya.
Berkaitan dengan itu, Rasulullah saw. bersabda:
“Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Para teman bertanya, ‘Siapa ya Rasulullah saw.?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Orang yang tetangganya merasa tidak kondusif dari gangguannya.’”
(H.R. Bukhari dan Muslim).
Al-Wakiil (Yang Maha Mewakili atau Pemelihara), yaitu Allah Swt. yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Dia menuntaskan segala sesuatu yang diserahkan hambanya tanpa membiarkan apa pun terbengkalai. Firman-Nya dalam al-Qur’ān:
Artinya :
“Allah Swt. pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (Q.S. az-Zumar/39:62)
Pembahasan lainnya Tajwid Surat Az Zumar Ayat 10
Dengan demikian, orang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah Swt., akan mempunyai kepastian bahwa semua akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Hal itu hanya sanggup dilakukan oleh hamba yang mengetahui bahwa Allah Swt. yang Mahakuasa, Maha Pengasih ialah satu-satunya yang
dapat dipercaya oleh para hamba-Nya.
Seseorang yang melaksanakan urusannya dengan sebaik-baiknya dan kemudian akan menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. untuk memilih karunia-Nya. Menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah Swt. melahirkan sikap tawakkal.
Tawakkal bukan berarti mengabaikan sebab-sebab dari suatu kejadian. Berdiam diri dan tidak peduli terhadap alasannya ialah itu dan akhirnya ialah sikap malas. Ketawakkalan sanggup diibaratkan dengan menyadari sebab-akibat. Orang harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Rasulullah saw. bersabda, “Ikatlah untamu dan bertawakkallah kepada Allah Swt.”
Manusia harus menyadari bahwa semua usahanya ialah sebuah doa yang aktif dan impian akan adanya pertolongan-Nya. Allah Swt. berfirman yang artinya, “(Yang mempunyai sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Swt. Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dia ialah Pemelihara segala sesuatu.“(Q.S. al-An’ām/6:102)
Hamba al-Wakiil ialah yang bertawakkal kepada Allah Swt. Ketika hamba tersebut telah melihat “tangan” Allah Swt. dalam sebab-sebab dan alasan segala sesuatu, beliau menyerahkan seluruh hidupnya di tangan al-Wakiil.
Dengan begitu, kekukuhan Allah Swt. yang mempunyai rahmat dan azab terbukti dikala Allah Swt. memperlihatkan rahmat kepada hambahamba-Nya. Tidak ada apa pun yang sanggup menghalangi rahmat ini untuk datang kepada sasarannya. Demikian juga tidak ada kekuatan yang sanggup mencegah pembalasan-Nya.
Seseorang yang menemukan kekuatan dan kekukuhan Allah Swt. akan membuatnya menjadi insan yang tawakkal, mempunyai kepercayaan dalam jiwanya dan tidak merasa rendah di hadapan insan lain. Ia akan selalu merasa rendah di hadapan Allah Swt. Hanya Allah Swt. yang Maha Menilai.
Oleh lantaran itu, Allah Swt. melarang insan bersikap atau merasa lebih dari saudaranya. Karena hanya Allah Swt. yang Maha Mengetahui baik buruknya seorang hamba. Allah Swt. juga menganjurkan insan bersabar. Karena Allah Swt. Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Kekuatan dan kekukuhan-Nya tidak terhingga dan tidak terbayangkan oleh insan yang lemah dan tidak mempunyai daya upaya. Jadi, lantaran kekukuhan-Nya, Allah Swt. tidak terkalahkan dan tidak tergoyahkan. Siapakah yang paling berpengaruh dan kukuh selain Allah Swt? Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup menundukkan Allah Swt. meskipun seluruh makhluk di bumi ini bekerja sama.
Allah Swt. berfirman:
Artinya :
“Sungguh Allah Swt., Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (Q.S. aż-Żāriyāt/51:58)
Dengan demikian, etika kita terhadap sifat al-Mat³n ialah dengan beristiqamah (meneguhkan pendirian), beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan, terus berusaha dan tidak frustasi serta bekerja sama dengan orang lain sehingga menjadi lebih kuat.
Penghimpunan ini ada banyak sekali macam bentuknya, di antaranya ialah mengumpulkan seluruh makhluk yang beraneka ragam, termasuk insan dan lain-lainnya, di permukaan bumi ini dan kemudian mengumpulkan mereka di padang mahsyar pada hari kiamat.
Allah Swt. berfirman:
Artinya: “Ya Tuhan kami, sebenarnya Engkau mengumpulkan insan untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyalahi janji.”(Q.S. Ali Imrān/3:9)
Allah Swt. akan menghimpun insan di alam abadi kelak sama dengan orang orang yang satu golongan di dunia. Hal ini bisa dijadikan sebagai barometer, kepada siapa kita berkumpul di dunia itulah yang akan menjadi sobat kita di akhirat.
Walaupun kita berjauhan secara fisik, akan tetapi hati kita terhimpun, di alam abadi kelak kita juga akan terhimpun dengan mereka. Begitupun sebaliknya walaupun kita berdekatan secara fisik akan tetapi hati kita jauh, maka kita juga tidak akan berkumpul dengan mereka.
Oleh alasannya ialah itu, apabila di dunia hati kita terhimpun dengan orang orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, di alam abadi kelak kita akan berkumpul dengan mereka di dalam neraka. Karena orang-orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, tempatnya ialah di neraka. Begitupun sebaliknya, apabila kecenderungan hati kita terhimpun dengan orang-orang yang beriman, bertakwa dan orang-orang saleh, di alam abadi kelak kita juga akan terhimpun dengan mereka.
Karena tidaklah mungkin orang-orang beriman hatinya terhimpun dengan orangorang kafir dan orang-orang kafir juga mustahil terhimpun dengan orang-orang beriman.
Allah Swt. juga mengumpulkan di dalam diri seorang hamba ada yang lahir di anggota badan dan hakikat batin di dalam hati. Barang siapa yang tepat ma’rifatnya dan baik tingkah lakunya, maka ia disebut juga sebagai al-Jāmi’.
Allah Swt. berfirman:
Artinya :
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur’ān, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang sanggup mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S. al- An’ām/6:115).
Al-‘Adl berasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama. Orang yang adil ialah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu memakai ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan inilah yang memperlihatkan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih.
Adil juga dimaknai sebagai penempatan sesuatu pada daerah yang semestinya. Allah Swt. dinamai al-‘Adl lantaran keadilan Allah Swt. ialah sempurna. Dengan demikian semua yang diciptakan dan ditentukan oleh Allah Swt. sudah memperlihatkan keadilan yang sempurna. Hanya saja, banyak di antara kita yang tidak menyadari atau tidak bisa menangkap keadilan Allah Swt. terhadap apa yang menimpa makhluk-Nya.
Karena itu, sebelum menilai sesuatu itu adil atau tidak, kita harus sanggup memperhatikan dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara yang akan dinilai.
Akal insan tidak sanggup menembus semua dimensi tersebut. Seringkali dikala insan memandang sesuatu secara sepintas dinilainya buruk, jahat, atau tidak adil, tetapi kalau dipandangnya secara luas dan menyeluruh, justru sebaliknya, merupakan suatu keindahan, kebaikan, atau keadilan.
Tahi lalat secara sepintas terlihat buruk, namun kalau berada di tengah-tengah wajah seseorang sanggup terlihat indah. Begitu juga memotong kaki seseorang (amputasi) terlihat kejam, namun dikala dikaitkan dengan penyakit yang mengharuskannya untuk dipotong, hal tersebut merupakan suatu kebaikan. Di situlah makna keadilan yang tidak simpel menilainya.
Allah Swt. Mahaadil. Dia menempatkan semua insan pada posisi yang sama dan sederajat. Tidak ada yang ditinggikan hanya lantaran keturunan, kekayaan, atau lantaran jabatan.
Dekat jauhnya posisi seseorang dengan Allah Swt. hanya diukur dari seberapa besar mereka berusaha meningkatkan takwanya.
Makin tinggi takwa seseorang, makin tinggi pula posisinya, makin mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt., begitupun sebaliknya.
Sebagian dari keadilan-Nya, Dia hanya menghukum dan memberi hukuman kepada mereka yang terlibat eksklusif dalam perbuatan maksiat atau dosa. Istilah dosa turunan, aturan karma, dan lain semisalnya tidak dikenal dalam syari’at Islam.
Semua insan di hadapan Allah Swt. akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri. Lebih dari itu, keadilan Allah Swt. selalu disertai dengan sifat kasih sayang. Dia memberi pahala semenjak seseorang berniat berbuat baik dan melipatgandakan pahalanya kalau kemudian direalisasikan dalam amal perbuatan. Sebaliknya, Dia tidak eksklusif memberi catatan dosa selagi masih berupa niat berbuat jahat. Sebuah dosa gres dicatat apabila seseorang telah benar-benar berlaku jahat.
Surga ialah makhluk yang Allah Swt. ciptakan dengan ketentuan, kehendak, dan perintah-Nya. Nama ini disebutkan di dalam firman-Nya :
Artinya :
“Dialah Yang Awal dan Akhir Yang ¨ahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu “. (Q.S. al-Hadiid 57/3).
Allah Swt. berkehendak untuk memutuskan makhluk yang awet dan yang tidak, namun kekekalan makhluk itu tidak secara zat dan tabi’at. Karena secara tabi’at dan zat, seluruh makhluk ciptaan Allah Swt. ialah fana (tidak kekal). Sifat awet tidak dimiliki oleh makhluk, kekekalan yang ada hanya sebatas awet untuk beberapa masa sesuai dengan ketentuan-Nya.
Orang yang mengesakan al-Ākhir akan menimbulkan Allah Swt. sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup selain-Nya, tidak ada seruan kepada selain-Nya, dan segala kesudahan tertuju hanya kepada-Nya. Oleh alasannya ialah itu, jadikanlah simpulan kesudahan kita hanya kepada-Nya. Karena sungguh simpulan kesudahan hanya kepada Rabb kita, seluruh alasannya ialah dan tujuan jalan akan berujung keharibaan-Nya semata.
Orang yang mengesakan al-Ākhir akan selalu merasa membutuhkan Rabb-nya, ia akan selalu mendasarkan apa yang diperbuatnya kepada apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. untuk hamba-Nya, lantaran ia mengetahui bahwa Allah Swt. ialah pemilik segala kehendak, hati, dan niat.
Demikian sedikit pembahasan ihwal asmaul husna al Kariim, al Mu’miin, al Wakiil, al Matiin, al Jaami’, al ‘Adl, dan al Aakhir semoga bermanfaat.
Pengertian Asmaul Husna
Asma’ul Husna terdiri atas dua kata, yaitu asma yang berarti nama -nama,dan Husna yang berarti baik atau indah. Jadi, Asmaul Husna sanggup diartikan sebagai nama-nama yang baik lagi indah yang hanya dimiliki oleh Allah Swt. sebagai bukti keagungan-Nya. Kata Asmaul Husna diambil dari ayat al-Qur’ān Q.S. Taha/20:8. yang artinya, “Allah Swt. tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama baik)“.Dalil Tentang Asmaul Husna
Firman Allah Swt. dalam Q.S. al-A’rāf/7:180Artinya: “Dan Allah Swt. mempunyai asmā’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama-Nya yang baik itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) namanama-Nya. Nanti mereka akan mendapat jawaban terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. al A’rāf/7:180)
Hadist Rosululloh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. sebenarnya Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafalkannya, maka ia akan masuk surga”. (H.R. Bukhari)
Berdasarkan hadis di atas, menghafalkan Asmaul Husna akan mengantarkan orang yang melakukannya masuk ke dalam nirwana Allah Swt. Apakah hanya dengan menghafalkannya saja seseorang akan dengan simpel masuk ke dalam surga?
Jawabnya, tentu saja tidak, bahwa menghafalkan Asmaul Husna harus juga diiringi dengan menjaganya,
baik menjaga hafalannya dengan terus-menerus menżikirkannya, maupun menjaganya dengan menghindari perilaku-perilaku yang bertentangan dengan sifat-sifat Allah Swt. dalam Asmaul Husna tersebut.
Memahami Makna Asmaul Husna
Seperti yang saya tulisakan di atas akan kita bahas hanya al Kariim, al Mu’miin, al Wakiil, al Matiin, al Jaami’, al ‘Adl, dan al Aakhir untuk sisanya dibahasa pada kesempatan lainnya.1. Al Kariim
Secara bahasa, al Kariim mempunyai arti Yang Mahamulia, Yang Maha Dermawan atau Yang Maha Pemurah. Secara istilah, al Kariim diartikan bahwa Allah Swt. Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah yang memberi anugerah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya. Dapat pula dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak mempunyai kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi Nikmat dan keutamaan, baik dikala diminta maupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya:Artinya :
“Hai insan apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah?” (Q.S. al-Infitār:6)
Al-Kariim dimaknai Maha Pemberi lantaran Allah Swt. senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya. Manusia dihentikan berputus asa dari kedermawanan Allah Swt. kalau miskin dalam harta, lantaran kedermawanan-Nya tidak hanya dari harta yang dititipkan melainkan mencakup segala hal. Manusia yang berharta dan gemar memberi hendaklah tidak sombong kalau telah mempunyai sifat gemar memberi lantaran Allah Swt. tidak menyukai kesombongan. Dengan demikian, bagi orang yang diberikan harta melimpah maupun tidak dianugerahi harta oleh Allah Swt., keduanya harus bersyukur kepada-Nya lantaran orang yang miskin pun telah diberikan nikmat selain harta.
Al-Kariim juga dimaknai Yang Maha Pemberi Maaf lantaran Allah Swt. memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban kepada Allah Swt., kemudian hamba itu mau bertaubat kepada Allah Swt. Bagi hamba yang berdosa, Allah Swt. ialah Yang Maha Pengampun. Dia akan mengampuni
seberapa pun besar dosa hamba-Nya selama ia tidak mewaspadai kasih sayang dan kemurahan-Nya. Menurut imam al-Gazali, al-Kariim ialah Dia yang apabila berjanji, menepati janjinya, bila memberi, melampaui batas harapan, tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan tidak rela bila ada kebutuhan beliau memohon kepada selain-Nya, meminta pada orang lain. Dia yang bila kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapa yang menuju dan berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
2. Al-Mu’miin
Al-Mu’m³n secara bahasa berasal dari kata amina yang berarti pembenaran, ketenangan hati, dan aman. Allah Swt. al-Mu’miin artinya Dia Maha Pemberi rasa kondusif kepada semua makhluk-Nya, terutama kepada manusia. Dengan begitu, hati insan menjadi tenang. Kehidupan ini penuh dengan banyak sekali permasalahan, tantangan, dan cobaan. Jika bukan lantaran Allah Swt. yang memperlihatkan rasa kondusif dalam hati, pasti kita akan senantiasa gelisah, takut, dan cemas. Perhatikan firman Allah Swt. berikut iniArtinya :
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iktikad mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa kondusif dan mereka mendapat petunjuk.” (Q.S. al-An’ām/6:82)
Pembahasan lainnya Tajwid Surat Al An'am Ayat 162-163
Ketika kita akan menyeru dan berdoa kepada Allah Swt. dengan nama-Nya al-Mu’miin, berarti kita memohon diberikan keamanan, dihindarkan dari fitnah, tragedi dan siksa. Karena Dialah Yang Maha Memberikan keamanan, Dia yang Maha Pengaman.
Dalam nama al-Mu’miin terdapat kekuatan yang dahsyat dan luar biasa. Ada pertolongan dan perlindungan, ada jaminan (insurense), dan ada bala bantuan. Berżikir dengan nama Allah Swt. al-Mu’miin di samping menumbuhkan dan memperkuat keyakinan dan keimanan kita, bahwa keamanan dan rasa kondusif yang dirasakan insan sebagai makhluk ialah suatu rahmat dan karunia yang diberikan dari sisi Allah Swt. Sebagai al-Mu’miin, yaitu Tuhan Yang Maha Pemberi Rasa Aman juga terkandung pengertian bahwa sebagai hamba yang beriman, seorang mukmin dituntut bisa menjadi pecahan dari pertumbuhan dan perkembangan rasa kondusif terhadap lingkungannya.
Mengamalkan dan meneladani asmaul husna al-Mu’miin, artinya bahwa seorang yang beriman harus menimbulkan orang yang ada di sekelilingnya kondusif dari gangguan pengecap dan tangannya.
Berkaitan dengan itu, Rasulullah saw. bersabda:
“Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Para teman bertanya, ‘Siapa ya Rasulullah saw.?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Orang yang tetangganya merasa tidak kondusif dari gangguannya.’”
(H.R. Bukhari dan Muslim).
3. Al Wakiil
Kata “al-Wakiil” mengandung arti Maha Mewakili atau Pemelihara.Al-Wakiil (Yang Maha Mewakili atau Pemelihara), yaitu Allah Swt. yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Dia menuntaskan segala sesuatu yang diserahkan hambanya tanpa membiarkan apa pun terbengkalai. Firman-Nya dalam al-Qur’ān:
Artinya :
“Allah Swt. pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (Q.S. az-Zumar/39:62)
Pembahasan lainnya Tajwid Surat Az Zumar Ayat 10
Dengan demikian, orang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah Swt., akan mempunyai kepastian bahwa semua akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Hal itu hanya sanggup dilakukan oleh hamba yang mengetahui bahwa Allah Swt. yang Mahakuasa, Maha Pengasih ialah satu-satunya yang
dapat dipercaya oleh para hamba-Nya.
Seseorang yang melaksanakan urusannya dengan sebaik-baiknya dan kemudian akan menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. untuk memilih karunia-Nya. Menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah Swt. melahirkan sikap tawakkal.
Tawakkal bukan berarti mengabaikan sebab-sebab dari suatu kejadian. Berdiam diri dan tidak peduli terhadap alasannya ialah itu dan akhirnya ialah sikap malas. Ketawakkalan sanggup diibaratkan dengan menyadari sebab-akibat. Orang harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Rasulullah saw. bersabda, “Ikatlah untamu dan bertawakkallah kepada Allah Swt.”
Manusia harus menyadari bahwa semua usahanya ialah sebuah doa yang aktif dan impian akan adanya pertolongan-Nya. Allah Swt. berfirman yang artinya, “(Yang mempunyai sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Swt. Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dia ialah Pemelihara segala sesuatu.“(Q.S. al-An’ām/6:102)
Hamba al-Wakiil ialah yang bertawakkal kepada Allah Swt. Ketika hamba tersebut telah melihat “tangan” Allah Swt. dalam sebab-sebab dan alasan segala sesuatu, beliau menyerahkan seluruh hidupnya di tangan al-Wakiil.
4. Al Matiin
Al-Matiin artinya Maha kukuh. Allah Swt. ialah Mahasempurna dalam kekuatan dan kekukuhan-Nya. Kekukuhan dalam prinsip sifat-sifat-Nya. Allah Swt. juga Mahakukuh dalam kekuatan-kekuatan-Nya. Oleh lantaran itu, sifat al-Matin ialah kehebatan perbuatan yang sangat kokoh dari kekuatan yang tidak ada taranya.Dengan begitu, kekukuhan Allah Swt. yang mempunyai rahmat dan azab terbukti dikala Allah Swt. memperlihatkan rahmat kepada hambahamba-Nya. Tidak ada apa pun yang sanggup menghalangi rahmat ini untuk datang kepada sasarannya. Demikian juga tidak ada kekuatan yang sanggup mencegah pembalasan-Nya.
Seseorang yang menemukan kekuatan dan kekukuhan Allah Swt. akan membuatnya menjadi insan yang tawakkal, mempunyai kepercayaan dalam jiwanya dan tidak merasa rendah di hadapan insan lain. Ia akan selalu merasa rendah di hadapan Allah Swt. Hanya Allah Swt. yang Maha Menilai.
Oleh lantaran itu, Allah Swt. melarang insan bersikap atau merasa lebih dari saudaranya. Karena hanya Allah Swt. yang Maha Mengetahui baik buruknya seorang hamba. Allah Swt. juga menganjurkan insan bersabar. Karena Allah Swt. Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Kekuatan dan kekukuhan-Nya tidak terhingga dan tidak terbayangkan oleh insan yang lemah dan tidak mempunyai daya upaya. Jadi, lantaran kekukuhan-Nya, Allah Swt. tidak terkalahkan dan tidak tergoyahkan. Siapakah yang paling berpengaruh dan kukuh selain Allah Swt? Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup menundukkan Allah Swt. meskipun seluruh makhluk di bumi ini bekerja sama.
Allah Swt. berfirman:
Artinya :
“Sungguh Allah Swt., Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (Q.S. aż-Żāriyāt/51:58)
Dengan demikian, etika kita terhadap sifat al-Mat³n ialah dengan beristiqamah (meneguhkan pendirian), beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan, terus berusaha dan tidak frustasi serta bekerja sama dengan orang lain sehingga menjadi lebih kuat.
5. Al Jamii'
Al-Jāmi’ secara bahasa artinya Yang Maha Mengumpulkan/Menghimpun, yaitu bahwa Allah Swt. Maha Mengumpulkan/Menghimpun segala sesuatu yang tersebar atau terserak. Allah Swt. Maha Mengumpulkan apa yang dikehendaki-Nya dan di mana pun Allah Swt. berkehendak.Penghimpunan ini ada banyak sekali macam bentuknya, di antaranya ialah mengumpulkan seluruh makhluk yang beraneka ragam, termasuk insan dan lain-lainnya, di permukaan bumi ini dan kemudian mengumpulkan mereka di padang mahsyar pada hari kiamat.
Allah Swt. berfirman:
Artinya: “Ya Tuhan kami, sebenarnya Engkau mengumpulkan insan untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyalahi janji.”(Q.S. Ali Imrān/3:9)
Allah Swt. akan menghimpun insan di alam abadi kelak sama dengan orang orang yang satu golongan di dunia. Hal ini bisa dijadikan sebagai barometer, kepada siapa kita berkumpul di dunia itulah yang akan menjadi sobat kita di akhirat.
Walaupun kita berjauhan secara fisik, akan tetapi hati kita terhimpun, di alam abadi kelak kita juga akan terhimpun dengan mereka. Begitupun sebaliknya walaupun kita berdekatan secara fisik akan tetapi hati kita jauh, maka kita juga tidak akan berkumpul dengan mereka.
Oleh alasannya ialah itu, apabila di dunia hati kita terhimpun dengan orang orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, di alam abadi kelak kita akan berkumpul dengan mereka di dalam neraka. Karena orang-orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, tempatnya ialah di neraka. Begitupun sebaliknya, apabila kecenderungan hati kita terhimpun dengan orang-orang yang beriman, bertakwa dan orang-orang saleh, di alam abadi kelak kita juga akan terhimpun dengan mereka.
Karena tidaklah mungkin orang-orang beriman hatinya terhimpun dengan orangorang kafir dan orang-orang kafir juga mustahil terhimpun dengan orang-orang beriman.
Allah Swt. juga mengumpulkan di dalam diri seorang hamba ada yang lahir di anggota badan dan hakikat batin di dalam hati. Barang siapa yang tepat ma’rifatnya dan baik tingkah lakunya, maka ia disebut juga sebagai al-Jāmi’.
6. Al 'Adl
Al-‘Adl artinya Mahaadil. Keadilan Allah Swt. bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apa pun dan oleh siapa pun. Keadilan Allah Swt. juga didasari dengan ilmu Allah Swt. yang MahaLuas. Sehingga mustahil keputusan-Nya itu salah.Allah Swt. berfirman:
Artinya :
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur’ān, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang sanggup mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S. al- An’ām/6:115).
Al-‘Adl berasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama. Orang yang adil ialah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu memakai ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan inilah yang memperlihatkan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih.
Adil juga dimaknai sebagai penempatan sesuatu pada daerah yang semestinya. Allah Swt. dinamai al-‘Adl lantaran keadilan Allah Swt. ialah sempurna. Dengan demikian semua yang diciptakan dan ditentukan oleh Allah Swt. sudah memperlihatkan keadilan yang sempurna. Hanya saja, banyak di antara kita yang tidak menyadari atau tidak bisa menangkap keadilan Allah Swt. terhadap apa yang menimpa makhluk-Nya.
Karena itu, sebelum menilai sesuatu itu adil atau tidak, kita harus sanggup memperhatikan dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara yang akan dinilai.
Akal insan tidak sanggup menembus semua dimensi tersebut. Seringkali dikala insan memandang sesuatu secara sepintas dinilainya buruk, jahat, atau tidak adil, tetapi kalau dipandangnya secara luas dan menyeluruh, justru sebaliknya, merupakan suatu keindahan, kebaikan, atau keadilan.
Tahi lalat secara sepintas terlihat buruk, namun kalau berada di tengah-tengah wajah seseorang sanggup terlihat indah. Begitu juga memotong kaki seseorang (amputasi) terlihat kejam, namun dikala dikaitkan dengan penyakit yang mengharuskannya untuk dipotong, hal tersebut merupakan suatu kebaikan. Di situlah makna keadilan yang tidak simpel menilainya.
Allah Swt. Mahaadil. Dia menempatkan semua insan pada posisi yang sama dan sederajat. Tidak ada yang ditinggikan hanya lantaran keturunan, kekayaan, atau lantaran jabatan.
Dekat jauhnya posisi seseorang dengan Allah Swt. hanya diukur dari seberapa besar mereka berusaha meningkatkan takwanya.
Makin tinggi takwa seseorang, makin tinggi pula posisinya, makin mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt., begitupun sebaliknya.
Sebagian dari keadilan-Nya, Dia hanya menghukum dan memberi hukuman kepada mereka yang terlibat eksklusif dalam perbuatan maksiat atau dosa. Istilah dosa turunan, aturan karma, dan lain semisalnya tidak dikenal dalam syari’at Islam.
Semua insan di hadapan Allah Swt. akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri. Lebih dari itu, keadilan Allah Swt. selalu disertai dengan sifat kasih sayang. Dia memberi pahala semenjak seseorang berniat berbuat baik dan melipatgandakan pahalanya kalau kemudian direalisasikan dalam amal perbuatan. Sebaliknya, Dia tidak eksklusif memberi catatan dosa selagi masih berupa niat berbuat jahat. Sebuah dosa gres dicatat apabila seseorang telah benar-benar berlaku jahat.
7. Al Akhir
Al-Ākhir artinya Yang Maha simpulan yang tidak ada sesuatu pun sesudah Allah Swt. Dia Mahakekal tatkala semua makhluk hancur, Mahakekal dengan kekekalan-Nya. Adapun kekekalan makhluk-Nya ialah kekekalan yang terbatas, mirip halnya kekekalan surga, neraka, dan apa yang ada di dalamnya.Surga ialah makhluk yang Allah Swt. ciptakan dengan ketentuan, kehendak, dan perintah-Nya. Nama ini disebutkan di dalam firman-Nya :
Artinya :
“Dialah Yang Awal dan Akhir Yang ¨ahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu “. (Q.S. al-Hadiid 57/3).
Allah Swt. berkehendak untuk memutuskan makhluk yang awet dan yang tidak, namun kekekalan makhluk itu tidak secara zat dan tabi’at. Karena secara tabi’at dan zat, seluruh makhluk ciptaan Allah Swt. ialah fana (tidak kekal). Sifat awet tidak dimiliki oleh makhluk, kekekalan yang ada hanya sebatas awet untuk beberapa masa sesuai dengan ketentuan-Nya.
Orang yang mengesakan al-Ākhir akan menimbulkan Allah Swt. sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup selain-Nya, tidak ada seruan kepada selain-Nya, dan segala kesudahan tertuju hanya kepada-Nya. Oleh alasannya ialah itu, jadikanlah simpulan kesudahan kita hanya kepada-Nya. Karena sungguh simpulan kesudahan hanya kepada Rabb kita, seluruh alasannya ialah dan tujuan jalan akan berujung keharibaan-Nya semata.
Orang yang mengesakan al-Ākhir akan selalu merasa membutuhkan Rabb-nya, ia akan selalu mendasarkan apa yang diperbuatnya kepada apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. untuk hamba-Nya, lantaran ia mengetahui bahwa Allah Swt. ialah pemilik segala kehendak, hati, dan niat.
Demikian sedikit pembahasan ihwal asmaul husna al Kariim, al Mu’miin, al Wakiil, al Matiin, al Jaami’, al ‘Adl, dan al Aakhir semoga bermanfaat.
Buat lebih berguna, kongsi:



